BAB 13
Sistem Akuntansi Penerimaan Kas
 Sistem Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai
Penjualan tunai dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara mewajibkan pembeli melakukan pembayaran harga barang lebih dahulu sebelum barang diserahkan oleh perusahaan kepada pembeli. Berdsarkan sistem pengendalian intern yang baik, sistem penerimaan kas dari penjualan tunai mengharuskan:
1. Penerimaan kas dalam bentuk tunai harus segera disetor ke bank dalam jumlah penuh dengan cara melibatkan pihak lain selain kasir untuk melakukan internal check.
2. Penerimaan kas dari penjualan tunai dilakukan melalui transaksi kartu krdit, yang melibatkan bank penerbit kartu kredit dalam pencatatan transaksi penerimaan kas.
Sistem penerimaan kas dari penjualan tunai dibagi menjadi tiga prosedur, yaitu:
1. Prosedur penerimaan kas dari over-the-counter sales. Dalam penjualan ini, pembeli datang ke perusahaan, melakukan pemilihan barang atau produk yang akan dibeli, melakukan pembayaran ke kasir dan kemudian menerima barang yang dibeli.
2. Prosedur penerimaan kas dari cash-on-delivery sales (COD sales). Dalam penjualan ini, merupakan sarana untuk memperluas daerah pemasaran dan untuk memberikan jaminan penyerahan barang bagi pembeli dan jaminan penerimaan kas bagi perusahaan penjual.
3. Prosedur penerimaan kas dari credit card sales. Dalam penjualan ini, pembeli datang ke perusahaan, melakukan pemilihan barang atau produk yang akan dibeli, melakukan pembayaran ke kasir dengan menggunakan kartu kredit. Kartu kredit dapat digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu: 1) kartu kredit bank (bank cards), 2) kartu credit perusahaan (company cards), dan 3) kartu kredit bepergian dan hiburan (travel and entertainment cards).
Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai adalah: faktur penjualan tunai, pita register kas (cash register tape), credit card sales slip, bill of lading, faktur penjualan COD, bukti setor bank, rekapitulasi harga pokok penjualan. Jaringan prosedur yang membentuk sistem penerimaan kas dari penjualan tunai adalah: 1) prosedur order penjualan, 2) prosedur penerimaan kas, 3) prosedur penyerahan barang, 4) prosedur pencatatan penjualan tunai, 5) prosedur penyetoran kas ke bank, 6) prosedur pencatatan penerimaan kas, dan 7) prosedur pencatatan harga pokok penjualan.
 Sistem Penerimaan Kas dari Piutang
Untuk menjamin diterimanya kas oleh perusahaan, sistem penerimaan kas dari piutang mengharuskan:
1. Debitur melakukan pembayaran dengan cek atau dengan cara pemindah bukuan melalui rekening bank (giro bilyet).
2. Kas yang diterima dalam bentuk cek dari debitur harus segera disetor ke bank dalam jumlah penuh.
Penerimaan kas dari piutang mewajibkan debitur melakukan pembayaran dengan menggunakan cek atas nama. Dengan cek atas nama ini, perusahaan akan terjamin menerima kas dari debitur, sehingga kecil kemungkinan orang yang tidak berhak dapat menguangkan cek yang diterima dari debitur untuk kepentingan pribadinya. Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari piutang adalah : 1) surat pemberitahuan, 2) daftar surat pemberitahuan, 3) bukti setor bank, dan 4) kuitansi.
Sistem Penerimaan Kas dari Piutang melalui Penagih Perusahaan dilaksanakan dengan prosedur berikut ini:
1. Bagian Piutang memberikan daftar piutang yang sudah saatnya ditagih kepada Bagian Penagihan.
2. Bagian Penagihan mengirimkan penagih, yang merupakan karyawan perusahaan, untuk melakukan penagihan kepada debitur.
3. Bagian Penagihan menerima cek atas nama dan surat pemberitahuan (remmit-tance advice) dari debitur.
4. Bagian Penagihan menyerahkan cek kepada Bagian Kasa.
5. Bagian Penagihan menyerahkan surat pemberitahuan kepada Bagian Piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
6. Bagian Kasa mengirim kuitansi sebagai tanda penerimaan kas kepada debitur.
7. Bagian Kasa menyetorkan cek ke bank, setelah cek atas cek tersebut dilakukan endorsement oleh pejabat yang berwenang.
8. Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.
Sistem Penerimaan Kas dari Piutang melalui Pos dilaksanakan dengan prosedur berikut ini:
1. Bagian Penagihan mengirim faktur penjualan kredit kepada debitur pada saat transaksi penjualan kredit terjadi.
2. Debitur mengirim cek atas nama yang dilampirkan surat pemberitahuan mlalui pos.
3. Bagian skretariat menerima cek atas nama dan surat pemberitahuan (remmittance advice) dari debitur.
4. Bagian Skretariat menyerahkan cek kepada Bagian Kasa.
5. Bagian Skretariat menyerahkan surat pemberitahuan kepada Bagian Piutang untuk kepentingan posting ke dalam kartu piutang.
6. Bagian Kasa mengirim kuitansi kepada debitur sebagai tanda terima pembayran dari debitur.
7. Bagian Kasa menyetorkan cek ke bank, setelah cek atas cek tersebut dilakukan endorsement oleh pejabat yang berwenang.
8. Bank perusahaan melakukan clearing atas cek tersebut ke bank debitur.
Sistem Penerimaan Kas dari Piutang melalui Lock-Box-Collection Plan memberikan manfaat berikut ini:
1. Pekerjaan pembuatan daftar surat pemberitahuan dipindahkan dari tangan fungsi skretariat perusahaan ke bank.
2. Memberikan kemudahaan bagi debitur dalam melakukan pembayaran utangnya.
3. Mempercepat proses check clearing,sehingga mempercepat perusahaan memperoleh kas.